Kabar menggembirakan datang dari dunia pariwisata Nusa Tenggara Barat. Skyscanner, mesin pencari perjalanan global, merilis daftar 10 destinasi yang diperkirakan paling tren pada 2027, dan di dalamnya tercantum nama Praya, Indonesia. Sebagaimana dikutip Kompas.com, kota yang menjadi gerbang utama menuju Lombok ini menempati posisi kedelapan dengan lonjakan pencarian tahunan sebesar 69 persen.
Capaian itu menempatkan Praya sejajar dengan nama-nama besar dunia dalam daftar tersebut: Bishkek di Kirgistan yang melonjak dramatis 877 persen, Marseille di Perancis (98 persen), Iloilo di Filipina (96 persen), Pulau Lord Howe di Australia (95 persen), Da Nang di Vietnam (81 persen), Tbilisi di Georgia (77 persen), Hamburg di Jerman (72 persen), lalu Shenzhen di Cina (66 persen) dan Kopenhagen di Denmark (52 persen).

Mengapa Praya?
Skyscanner menggarisbawahi daya tarik Praya sebagai pintu masuk menuju sisi Lombok yang lebih tenang. Di sini wisatawan menemukan pantai-pantai sepi berpasir putih, ombak yang cocok untuk berselancar, serta suasana liburan yang santai dan tak seramai pulau tetangga. Kombinasi alam yang masih asri dengan akses yang makin mudah itulah yang membuat pencarian rute ke Praya terus menanjak dari tahun ke tahun.
Bagi wisatawan domestik, tren ini bukan hal baru. Kawasan selatan Lombok memang sudah lama dipuji dunia, salah satunya lewat Mandalika yang dulu kami rangkum dalam ulasan wisata Mandalika usai MotoGP dengan Pantai Kuta dan Tanjung Aan. Kini sorotan bergeser sedikit ke arah Praya, membuka peluang kawasan baru untuk berkembang tanpa kehilangan karakternya.
Peluang dan Tantangan
Rekomendasi internasional semacam ini biasanya diikuti lonjakan kunjungan. Peluangnya jelas: usaha lokal, homestay, dan pemandu wisata akan lebih terbantu. Namun tantangannya pun nyata, mulai dari kesiapan infrastruktur, pengelolaan sampah, hingga menjaga agar daya tarik alam yang menjadi bintang utama tidak tergerus oleh pertumbuhan yang tak terkendali.
Bagi Anda yang sedang menyusun daftar keinginan liburan, mencatat Praya untuk rencana 2027 mungkin ide yang tepat, terutama bila ingin menikmati Lombok sebelum gelombang wisatawan berikutnya datang. Mulailah dari riset musim, transportasi, dan penginapan sejak dini agar perjalanan lebih hemat dan nyaman.




















Tinggalkan Balasan