Langsung ke konten
-
Teknologi

Harga Smartphone Naik, GSMA Khawatir Miliaran Orang Tertinggal dari AI

Tangan pengguna memegang ponsel sederhana di ruang sempit
Foto: TechRadar

Kecerdasan buatan (AI) sedang menjadi bintang teknologi, tetapi ada sisi gelap yang mulai disorot industri. Asosiasi seluler dunia, GSMA, melalui laporan resminya memperingatkan munculnya kesenjangan AI global: kenaikan tajam biaya komponen ponsel, khususnya memori dan chipset, membuat smartphone makin sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Penyebab utamanya menarik dicermati. Permintaan infrastruktur AI dan pusat data yang meledak membuat harga chip memori naik di seluruh dunia. Kenaikan biaya komponen itu lalu merambat ke harga ritel ponsel, sehingga perangkat pemula yang selama ini menjadi pintu masuk internet bagi masyarakat berpenghasilan kecil ikut tergerus keterjangkauannya.

Ponsel pintar terlihat dekat dengan layar menyala
Foto: WIRED

Tiga Miliar Orang Masih Offline

Dalam laporan yang dikutip sejumlah media, GSMA mencatat sekitar tiga miliar orang masih belum terhubung ke internet. Padahal, ponsel pintar adalah gerbang utama layanan digital mulai dari perbankan, pendidikan, kesehatan, hingga asisten AI yang kini makin banyak tertanam di perangkat. Bila harga terus naik, kelompok ini berisiko semakin tertinggal, bukan hanya dari internet, tetapi dari manfaat revolusi AI itu sendiri.

Sebagai langkah antisipasi, GSMA mengusulkan hadirnya smartphone pemula dengan harga sekitar 30 dolar AS. Titik harga tersebut dinilai realistis agar perangkat bisa menjangkau sekitar 1,6 miliar orang yang saat ini belum memiliki akses terjangkau. Artinya, industri dituntut berinovasi pada efisiensi komponen, bukan sekadar menambah fitur mahal.

Berbahan Refleksi untuk Pasar Indonesia

Kabar ini relevan untuk pasar Indonesia yang sangat bergantung pada segmen harga terjangkau. Fenomena serupa sebenarnya sudah terasa di tanah air, sebagaimana kami rangkum dalam potret perang smartphone 2026 antara inovasi dan krisis chip, ketika inovasi kamera dan ponsel lipat harus berjalan beriringan dengan kenaikan biaya komponen.

Untuk pengguna, kenaikan harga komponen menjadi alasan untuk lebih cerdas merawat perangkat yang ada, menunda pergantian bila belum diperlukan, dan mempertimbangkan ponsel bekas berkualitas sebagai alternatif. Untuk industri, tekanan ini bisa mempercepat munculnya chip efisiensi tinggi yang lebih hemat daya dan biaya.

Arah kebijakan global pun mulai bergerak. Sejumlah negara mendorong program perangkat terjangkau dan literasi digital agar gelombang AI tidak hanya dinikmati segelintir masyarakat. Waktu akan menentukan apakah peringatan GSMA ini ditindaklanjuti dengan aksi konkret industri dalam beberapa bulan ke depan.

0

Arguzzo

Redaksi Arguzzo.com — tim pemberita sehari-hari untuk topik Gadget, Laptop, Teknologi, dan Otomotif. Konten disusun dari rilis resmi produsen serta sumber yang telah diverifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga