Langsung ke konten
-
Otomotif

Pertama dalam Sejarah, Pangsa Mobil BBM Global Anjlok di Bawah 50 Persen

Ilustrasi mobil listrik mengisi daya
Ilustrasi mobil listrik saat mengisi daya. (Foto: Electrek)

Sejarah otomotif dunia mencatat babak baru. Untuk pertama kalinya sejak mobil mulai dipasarkan secara luas di era 1920-an, pangsa penjualan mobil berbahan bakar minyak (BBM) global anjlok di bawah 50 persen. Data yang dirilis Nikkei Asia dan diwartakan Suara.com pada Jumat (2/10/2026) menunjukkan kendaraan konvensional kini hanya menyumbang 49 persen dari total penjualan mobil baru dunia.

Daftar Isi
  1. Angka Kunci Periode Januari-Juni 2026
  2. Pemicu: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
  3. EV Melejit, tapi Pertumbuhannya Tidak Merata
  4. Apa Artinya untuk Indonesia
Ilustrasi mobil listrik mengisi daya
Ilustrasi mobil listrik saat mengisi daya. (Foto: Electrek)

Angka Kunci Periode Januari-Juni 2026

Seperti diwartakan Nikkei Asia, penjualan mobil BBM di dunia, termasuk hybrid di dalamnya, turun 10 persen pada periode Januari-Juni 2026 menjadi 20,25 juta unit. Akibatnya, pangsa pasar mobil konvensional hanya tinggal 49 persen, turun tiga poin dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini terasa makin deras bila ditarik ke belakang. Sebagai pembanding, pada 2021 lalu pangsa mobil BBM masih mencapai 73 persen. Dalam lima tahun, kendaraan konvensional kehilangan hampir seperempat porsi pasar dunia, laju erosi tercepat dalam sejarah industri otomotif modern.

Pemicu: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak

Pemicu utama penurunan ini berasal dari gejolak geopolitik. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah yang berlangsung sejak Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak dunia. Bahan bakar yang makin mahal membuat biaya kepemilikan mobil BBM ikut naik, sehingga konsumen beralih ke kendaraan listrik yang biaya operasionalnya jauh lebih murah.

Dampaknya terlihat tajam di pasar-pasar besar. Penjualan mobil BBM di China anjlok 26 persen, sementara di Eropa turun 13 persen. China sendiri merupakan pasar mobil terbesar di dunia, sehingga pelemahan di negeri ini langsung menggeser keseimbangan pasar global.

EV Melejit, tapi Pertumbuhannya Tidak Merata

Di sisi lain, penjualan mobil listrik global melejit 12 persen menjadi 6,87 juta unit, atau berkontribusi 17 persen dari total penjualan mobil dunia. Angka ini naik tiga poin dan sudah berada di atas ambang 16 persen, titik yang secara historis menandai sebuah teknologi mulai diterima luas oleh pasar.

Menariknya, pertumbuhan ini tidak merata. Separuh penjualan mobil listrik dunia tercatat di China dengan jumlah mencapai 3,44 juta unit, meski penjualan EV di Tiongkok justru turun 3 persen setelah Beijing mencabut insentif pajak EV sejak awal tahun. Di Amerika Utara, penjualan mobil listrik juga menyusut 15 persen. Artinya, lonjakan global hari ini lebih banyak digerakkan pasar-pasar lain, termasuk Eropa dan kawasan Asia Tenggara.

Apa Artinya untuk Indonesia

Tren global ini menjadi sinyal penting bagi pasar otomotif nasional yang tengah menikmati momentum kendaraan listrik. Pemain baru seperti iCAR V23 yang tembus 1.000 unit terkirim dalam lima bulan menunjukkan penerimaan mobil listrik di Indonesia terus membaik. Bila harga minyak dunia bertahan tinggi, migrasi konsumen dari BBM ke listrik diprediksi makin cepat, termasuk di Tanah Air. Pantau terus Arguzzo.com untuk kabar otomotif terkini.

0

Arguzzo

Redaksi Arguzzo.com — tim pemberita sehari-hari untuk topik Gadget, Laptop, Teknologi, dan Otomotif. Konten disusun dari rilis resmi produsen serta sumber yang telah diverifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga